tradisi mebiyukukung

Mebiya kukung adalah salah satu bentuk dari rasa syukur kepada Tuhan "ida sang hyang Widhi Wasa" yang bermanifestasi sebagai Dewi Sri, yang mana beliau di percaya sebagai Dewi kemakmuran yang ada dalam tradisi masyarakat Bali khususnya yang masih memiliki persawahan, karena upacara mebiya kukung ini di laksanakan di sawah, tepatnya kurang lebih satu bulan sebelum masyarakat Bali memanen padinya,

Mebiyukukung


Masyarakat Bali khususnya yang masih memiliki persawahan, mebiya kukungan,
Ini bertujuan untuk mengucapkan rasa syukur dan terima kasih atas anugerah dan berkah yang di yang di berikan oleh tuhan "Ida sang hyang Widhi Wasa" yang bermanifestasi sebagai Dewi Sri, serta memohon agar di beri anugerah kembali serta hasil panen yang berlimpah khususnya yang masih memiliki persawahan/padi di sawah,

namun kini keberadaan sawah di Bali sudah semakin sedikit, kebanyakan masyarakat Bali sudah mengalihfungsikan lahan pertanian menjadi bangunan dan di tanam

Upacara mebiya kukung ini di lengkapi dengan sarana seperti Penjor, yang mana Penjor adalah di percaya sebagai naga Basuki dimana bliau adalah dewa kemakmuran yang berstana di gunung agung. Penjor juga di pakai untuk upacara keagamaan seperti galungan dan Kuningan,  namun di tempatkan di depan rumah masing-masing masyarakat Hindu di Bali serta ketika masyarakat Bali melaksanakan upacara keagamaan di pura.


Penjor yang di pakai di masing-masing upacara keagamaan di Bali sangat bervariasi sesuai dengan tempat dan fungsinya
-Penjor yang berukuran sangat kecil biasanya digunakan untuk upacara mecaru, dan di tempatkan di areal atau tempat yang akan di laksanakan upacara pecaruan.
-penjor yang lebih besar dan di tempatkan di persawahan, yang berfungsi untuk pelengkap upacara mebiya kukung.

Penjor biyukukung

-penjor yang berukuran sedang dan di tempatkan di depan rumah masing-masing itu berfungsi sebagai runtutan upacara keagamaan seperti galungan dan Kuningan, dan ketika ada upacara keagamaan yang lain seperti panca wali krama seperti di Besakih kemarin, masyarakat Bali wajib membuat Penjor yang di tempatkan di depan rumah masing-masing selama upacara tersebut selesai.

Penjor galungan
Penjor galungan


-penjor yang berukuran sangat besar yaitu di tempatkan di depan cadi Pura dan berfungsi sebagai runtutan upacara keagamaan yang di selenggarakan di pura tersebut dan itu di buat oleh pemuda-pemudi desa sekitar pura tersebut.


Sarana dan Banten upakara mebiya kukungan,


Sarana dan Banten upakara mebiya kukungan terdiri Banten ajuman, banten tegteg, Banten dapetan, dan kain Wastra yang di pasang di padi dan di Pelinggih di padi.

Banten biyukukung
Banten biyukukung

Semoga artikel saya kali ini bermanfaat dan bisa meberikan wawasan tentang budaya dan tradisi yang ada di Bali. Trima kasih


0 Response to " tradisi mebiyukukung"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel