Makna dan filosofi Penjor galungan serta eteh-eteh Penjor.

Makna dan filosofi Penjor galungan serta eteh-eteh Penjor

Wija Negara - serangkaian hari raya galungan dan kuningan, yang jatuh pada budha kliwon wuku dungulan kalender Bali, tepatnya pada hari Rabu tanggal 24 bulan Juli 2019. Sebelum hari raya galungan ada rangkaian kegiatan yang dilaksanakan oleh umat Hindu di Bali diantaranya adalah

• penapean
Penapean berasal dari kata tape yang artinya dalam rangkaian kegiatan hari raya galungan di masyarakat Bali khususnya wanita di sibukkan dengan membuat tape untuk persiapan galungan.

• penyajan
Penyajan berasal dari kata Jaja, yang berarti dalam penyajan ini masyarakat umat Hindu di Bali di sibukkan dengan membuat kue, jajan dan lainnya untuk persiapan galungan, namun tidak jarang juga yang langsung membuat sate lilit dan persiapan galungan yang lain termasuk pembuatan Penjor.

Makna dan eteh-eteh penjor Galungan.

Makna dan filosofi Penjor galungan serta eteh-eteh Penjor
Proses pembuatan penjor Galungan

Seperti yang kita ketahui, di dalam upacara atau hari raya galungan di lengkapi dengan pemasangan Penjor di depan masing-masing pekarangan rumah atau tepatnya di samping pintu masuk "angkul-angkul" namun tidak semua orang tahu apa sebenarnya makna penjor Galungan tersebut,

Penjor galungan merupakan sebuah lambang dari gunung agung atau naga Basuki, yang mana dalam cerita naga Basuki adalah lambang dari kemakmuran.

Eteh-eteh Penjor galungan sebagai berikut, 

- sampian Penjor, adalah sebagai lambang Prama Siwa, isinya canang sari, kuangen sedari sebelas kepeng.
- jaje gina dan jaje uli sebagai lambang dewa Brahma
- Kober putih kuning dengan padma ongkara sebagai dewa iswara.
- gegantungan sebagai sanghSang widyadari
- tamiang sebagai penolak meseh/adharma 
- ubag-abig sebagai Sanghyang rare angon
- klukuh berisi tape, jaje sebagai sang hyang boga.
- tebu sebagai Sang hyang sambu
- palabungkah, palagantung sebagai Sang hyang Wisnu
- kelapa sebagai Sang hyang Rudra
- busung/Ambu di lambangkan sebagai sang hyang mahadewa
- plawa sebagai Sang hyang sangkara
- sanggah Ardha Candra di lambangkan sebagai dewa siwa
- Banten sebagai Sang hyang sadha siwa
- lamak di lambangkan sebagai Sang hyang tribuana
- bambu di bungkus dengan kain kasa atau Ambu di simbolkan sebagai sang hyang maheswara.

Filosofi dari Penjor galungan
Penjor menjulang tinggi namun setelah diatas merunduk kebawah, lebih cenderung diumpamakan seperti seorang pemimpin yang selalu memperhatikan rakyatnya.

Semegah apapun hiasan Penjor galungan di depan rumah tanpa dilengkapi dengan eteh-eteh Penjor galungan di atas sekiranya tidak ada makna, kecuali hanya sekedar hiasan depan rumah saja,

Pemasangan Penjor galungan di laksanakan tepat pada penampahan galungan yaitu satu hari sebelum galungan.

• Penampahan galungan
Penampahan galungan berasal dari kata tampah yang artinya memotong daging baik ayam, bebek, sampai Bali, disini persiapan galungan yang paling sibuk mulai dari bikin sate, bikin lawar sampai bikin sesajen untuk galungan serta memasang wastra di merajan atau sanggah masing-masing.

• galungan
Galungan merupakan puncak dari perayaan hari raya galungan, masyarakat Hindu di Bali melaksanakan persembahyangan di masing-masing pura yang ada di desa masing-masing serta di sanggah masing-masing, upacara persembahyangan di laksanakan di pagi hari sampai selesai.

Demikianlah sedikit ulasan tentang makna dan filosofi dari Penjor galungan, serta rentetan pelaksanaan hari raya galungan semoga artikel ini bermanfaat untuk anda terima kasih.

Selamat hari raya galungan dan Kuningan umat Hindu di Bali semoga Ida sang hyang Widhi Wasa senantiasa memberikan anugerah yang luar biasa kepada kita semua.

0 Response to "Makna dan filosofi Penjor galungan serta eteh-eteh Penjor."

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel